Karakteristik dan Manfaat Ekonomi HHBK Masoi


Makalah Penilaian Hasil Hutan                                                                      Medan,     Oktober 2019
KARAKTERISTIK DAN MANFAAT EKONOMI HASIL HUTAN BUKAN KAYU (HHBK) MASOI

Dosen Penanggungjawab :
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si

Disusun Oleh :
Anggita Melati Harahap
171201094
Budidaya Hutan 5























PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2019



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Definisi HHBK seperti dirumuskan oleh pemerintah melalui Kementerian Kehutanan (Permenhut: 35/MENHUT-II/2007) adalah hasil hutan baik nabati dan hewani beserta produk turunan dan budidayanya kecuali kayu. Pada umumnya HHBK merupakan hasil sampingan dari sebuah pohon, misalnya getah, daun, kulit, buah dan lain-lain atau berupa tumbuhan yang memiliki sifat khusus seperti rotan, bambu dan lain-lain. HHBK secara umum berperan tidak hanya pada aspek ekologis, tetapi juga pada aspek ekonomis dan sosial budaya. Dari aspek ekologis, HHBK merupakan bagian dari ekosistem hutan dan mempunyai fungsi dan peran tertentu yang ikut menunjang keberlangsungan ekosistem tersebut. Dariaspek ekonomis, HHBK dapat menjadi salah satu sumber penghasilan bagi masyarakat maupun pemerintah. Sedangkan dari aspek sosial budaya, masyarakat ikut dilibatkan dalam pemanfaatan dan pengolahan HHBK. Di samping itu, adanya kegiatan produksi dan pengolahan HHBK, maka dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang cukup besar sehingga dapat mengurangi angka pengangguran (Salaka, dkk. 2012).
HHBK (Hasil Hutan Bukan Kayu) didefinisikan sebagai segala sesuatu yang bersifat material (bukan Kayu) yang diambil dari hutan untuk dimanfaatkan bagi kegiatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Dalam upaya mengubah haluan pengelolaan hutan dari timber extraction menuju sustainable forest management, HHBK atau  Non-Timber Forest Product memiliki nilai yang sangat strategis. HHBK merupakan salah satu sumber daya hutan yang memiliki keunggulan komparatif dan bersinggungan langsung dengan masyarakat sekitar hutan (Moko, 2008).
            Menurut P. 19/Menhut-II/2009 strategi pengembangan HHBK dimaksudkan untuk mengurangi ketergantungan pada hasil hutan kayu, meningkatkan pendapatan masyarakat hutan dari HHBK, menumbuhkan kesadaran masyarakat akan kawasan hutan, meningkatkan devisa sektor kehutanan bukan kayu dan menciptakan lapangan kerja baru di sektor kehutan dari komoditas bukan kayu. Selain itu melalui pengembangan HHBK diharapkan terjadi optimalisasi pemanfaatan HHBK sebagai alternative sumber pangan, sumber bahan obat-obatan, penghasil serat, penghasil getah-getahan yang dapat meningkatkan ekonomi lokal dan nasional  (Wibowo, 2013).
Negara kita termasuk salah satu negara penghasil minyak atsiri terbesar di dunia, dan minyak ini juga merupakan komoditi yang menghasilkan devisa negara. Oleh karena itu pada tahun-tahun terakhir ini, minyak atsiri mendapat perhatian yang cukup besar dari pemerintah Indonesia. Sampai saat ini Indonesia baru menghasilkan dua belas jenis minyak atsiri yaitu: minyak cengkeh, minyak kenanga, minyak nilam, minyak akar wangi, minyak pala, minyak kayu putih, minyak sereh wangi, minyak jahe, minyak lada, minyak cendana, minyak kemukus, dan minyak masoyi. Dari dua belas jenis minyak atsiri ini terdapat enam jenis minyak yang paling menonjol di Indonesia yaitu: minyak pala, minyak nilam, minyak cengkeh, minyak kayu putih, minyak sereh wangi, dan minyak akar wangi (Syauqiah dkk., 2008).
Minyak Masoi merupakan minyak atsiri yang berasal dari kulit batang tanaman Masoi (Massoia aromatica Becc.). Tanaman Masoi merupakan tanaman yang berasal dari daerah Papua dan Maluku. Sejak dahulu, tanaman ini banyak digunakan oleh masyarakat lokal untuk pengobatan tradisional. Selain itu, minyak Masoyi juga telah diketahui memiliki aktivitas sebagai antimikroba. Aktivitas antimikroba tersebut berasal dari senyawa masoialakton yang merupakan komponen utama minyak atsiri Masoi (Pratiwi dkk., 2015).

1.2  Rumusan Masalah
     1.      Klasifikasi tumbuhan masoi.
     2.      Bagaimana karakteristik minyak masoi.
     3.      Bagaimana teknik penyulingan minyak masoi.
4. Manfaat ekonomi minyak masoi.
1.3  Tujuan
1.      Untuk mengetahui klasifikasi dari tumbuhan masoi.
2.      Untuk mengetahui karakteristik dari minyak masoi.
3.      Untuk mengehatui teknik penyulingan minyak masoi.
4.      Untuk mengetahiu manfaat ekonomi minyak masoi.

BAB II
          ISI
2.1 Klasifikasi Masoi
Mesoyi atau masoi (Cryptocarya massoia (Oken) Kosterm.) adalah sejenis pohon yang masih sekerabat dengan kayu manis. Di Papua dikenal sebagai aikor atau aikori. Habitus berupa pohon, tinggi sekitar 25 m. Batang besar dengan diameter ± 30 cm, tebal pepagan (kulit kayu) dapat mencapai 0,5 cm serta menebarkan aroma wangi. Aroma wangi berasal dari kandungan minyak atsiri yang dikenal sebagai Massoia lactone. Bentuk daun bundar telur yang meruncing ke arah ujung daun. Duduk daun melingkar atau berlawanan. Perbungaan mempunyai tangkai panjang ± 10 cm, muncul dekat pangkal daun. Buah buni, berbiji satu.
Kingdom         :           Plantae
Divisi               :           Magnoliophyta
Kelas               :           Magnoliopsida
Ordo                :           Laurales
Famili              :           Lauraceae
Genus              :           Cryptocarya
Spesies            :           C. massoia


2.2 Karakteristik Minyak Masoi
            Masoi adalah salah satu HHBK andalan Papua. Hasil penyulingannya merupakan bahan dasar pembuatan parfum, kosmetika, aromaterapi dan bahan dasar pembuat aroma makanan. Minyak masoyi  memiliki sifat mudah menguap pada suhu kamar dan dapat mengiritasi kulit. Demikian halnya dengan minyak Masoyi. Minyak Masoyi dapat mengiritasi kulit dan membran mukus dengan penggunaan dermal pada konsentrasi Efektivitas Nanoemulsi Minyak Masoyi (Massoia aromatica Becc.) sebagai Agen Antimikroba terhadap Pseudomonas aeruginosa. Sifat minyak Masoyi tersebut dapat menjadi masalah apabila digunakan langsung sebagai antimikroba. Oleh karena itu perlu dikembangkan suatu bentuk sediaan antibakteri dari minyak Masoyi sehingga dapat mengoptimalkan aktivitas dan efektivitasnya.
Minyak atsiri dari kulit batang Masoyi mengandung senyawa masoilakton yang diketahui mempunyai aktivitas antibakteri terhadap Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcus aureus. Minyak atsiri mempunyai sifat mudah menguap dan juga bersifat iritatif terhadap kulit dan membran mukus. Untuk dapat diaplikasikan sebagai obat antibakteri diperlukan formulasi minyak Masoyi. Nanopartikel merupakan partikel dengan ukuran yang sangat kecil (10-500 nm) sehingga mampu menembus ke dalam sel. Dengan memformulasikan minyak Masoyi menjadi emulsi yang berukuran nano dapat meningkatkan kelarutan obat, meningkatkan bioavailabilitas, meningkatkan waktu paruh obat, dan sistem penghantaran obat yang lebih tertarget.
Kegunaan dalam pengobatan tradisional adalah sebagai pencahar, pengobatan pasca persalinan, penurun panas, dan perangsang kuli. Selain itu juga digunakan untuk pengobatan tuberkulosis paru, pengobatan luka, dan otot kaku.
2.3 Teknik Penyulingan Minyak Masoi
        Minyak atsiri dapat dibuat dengan beberapa cara, yaitu penyulingan, ekstraksi dengan pelarut menguap (solvent extraction), ekstraksi dengan lemak dingin (enfleurasi), ekstraksi dengan lemak panas (maserasi) dan pengepresan (pressing). Dalam pembuatan minyak masoi, proses penyulingannya dilakukan dengan penyulingan uap langsung.
            Penyulingan/Distilasi Uap Langsung, masoi dialiri dengan uap yang berasal dari suatu pembangkit uap. Uap yang dihasilkan lazimnya memiliki tekanan yang lebih besar daripada tekanan atmosfer. Uap yang dihasilkan kemudian dialirkan kedalam alat penyulingan sehingga minyak atsiri akan menguap terbawa oleh aliran uap air yang dialirkan ke kondensor untuk dikondensasi. Pada proses penyulingan, tekanan, suhu, laju alir, dan lama penyulingan diatur berdasarkan jenis komoditas bahan. Lama penyulingan tergntung penggunaan tekanan dan suhu penyulingan. Tekanan uap yang tinggi dapat menyebabkan dekomposisi pada minyak, oleh karena itu penyulingan lebih baik dimulai dengan tekanan rendah, kemudian meningkat secara bertahap sampai pada akhir proses
Pada proses pendinginan, suhu air pendingin yang masuk ke dalam tabung atau kolam pendingin yang ideal sekitar 25-30, dan suhu air keluar maksimum 40–50. Suhu air keluar tersebut dapat diatur dengan memperbesar/memperkecil debit air pendingin yang masuk ke dalam tabung/kolam pendingin. Pemisahan minyak dari tabung pemisah sebaiknya “tidak diciduk” (diambil dengan gayung), karena hal itu akan menyebabkan minyak yang telah terpisah dari air akan kembali terdispersi dalam air dan sulit memisah kembali, sehingga mengakibatkan kehilangan (loses).
Minyak yang dihasilkan masih terlihat keruh karena mengandung sejumlah kecil air dan kotoran yang terdispersi dalam minyak. Air tersebut dipisahkan dengan menyaring minyak menggunakan kain monel. Pemisahan air juga dapat dilakukan dengan menambahkan zat pengikat air berupa Natrium Sulfat anhidrat (Na2SO4)  sebanyak 1% selanjutnya diaduk dan disaring

2.4 Manfaat Ekonomi Minyak Masoi
            Masoi sudah diperdagangkan di Papua sejak abad 14, ketika para pedagang dari penjuru Nusantara tertarik datang ke wilayah Papua bagian Barat Daya untuk mencari jenis kayu ini. Komoditas kayu yang sebelumnya oleh masyarakat di Papua dikenal sebagai aikor atau aikori mulai diperkenalkan oleh para pedagang dengan nama mesoyi atau masoi.
            Persepsi pencari masoi terhadap tanaman masoi pada umumnya positif, karena dianggap bernilai ekonomi tinggi dan kaya akan manfaat. Namun kurang tertarik untuk menanam walaupun secara umum masoi cocok ditanam di daerah tersebut dan masih luasnya lahan yang bisa dikelola dengan masoi. Hal tersebut dikarenakan 1) sulitnya memperoleh bibit masoi, 2) perlu ketekunan dan ketelitian dalam penanaman masoi, 3) tingkat kegagalan tanaman tinggi, 4) memerlukan waktu yang lama untuk memperoleh hasilnya, 5) belum diperoleh teknik pemanenan yang ramah lingkungan dan berasas kelestarian.
            Harga minyak masoi di pasar dalam negeri bisa mencapai Rp 2.000.000,-/liter, sedang harga pasar dunia antara $250-350/kg tergantung tingginya kadar lactone. Nilai ekonomi kulit masoi yang terbilang tinggi merupakan daya tarik walaupun bukan menjadi alternatif pekerjaan sampingan bagi para pencari masoi. Permintaan akan minyak masoi tergolong tinggi. Minyak masoi merupakan bahan baku pembuatan parfum, flavour (penyedap) untuk industri sabun dan minuman serta obat-obatan. Aromanya khas menyebabkan permintaan akan minyak masoi tinggi terutama di pasar internasional. Permintaan yang tinggi merupakan peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan tanaman masoi untuk memasok kulit masoi sebagai bahan baku penyulingan minyak masoi.


BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
            Masoi adalah salah satu HHBK andalan Papua. Hasil penyulingannya merupakan bahan dasar pembuatan parfum, kosmetika, aromaterapi dan bahan dasar pembuat aroma makanan. Minyak masoi merupakan salah komoditi yang menunjang perekonomian. Harga minyak masoi di pasar dalam negeri bisa mencapai Rp 2.000.000,-/liter, sedang harga pasar dunia antara $250-350/kg tergantung tingginya kadar lactone. Minyak masoi merupakan bahan baku pembuatan parfum, flavour (penyedap) untuk industri sabun dan minuman serta obat-obatan. Aromanya khas menyebabkan permintaan akan minyak masoi tinggi terutama di pasar internasional.



DAFTAR PUSTAKA
Balai Penelitian Dan Pengembangan Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Monokwari.

Hastanti , Baharinawati W dan  Noya , Julanda . 2018. Karakteristik, Kemiskinan, Gender Dan Persepsi Pencari Masoi (Cryptocarya Massoia (Oken) Kosterm.) (Studi Kasus Di Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat). Jurnal Wasian 2 (1): 39-56

Hastanti , Baharinawati W. Kuswandi ,Relawan. Noya, Julanda. 2018. Strategi Pengembangan Hasil Hutan Bukan Kayu (Hhbk) Masoi (Cryptocarya Massoia (Oken) Kosterm.) Di Teluk Bintuni, Papua Barat Dengan Analisis Swot. Jurnal Wasian 5(1):43-56

Moko, H. 2008. Menggalakkan Hasil Hutan Bukan Kayu sebagai Produk Unggulan. Informasi Teknis Balai Besar Penelitian Bioteknologi Dan Pemuliaan Tanaman Hutan  6(2) :1–5

Salaka, F. Nugrogo, B. Nurrochmat, D. 2012. Strategi Kebijakan Pemasaran Hasil Hutan Bukan Kayu di Kabupaten Seram Bagian Barat Provinsi Maluku. Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan, 9(1): 50-65.

Syauqiah,Isna. Mirwan,Agus. Sulaiman, A. Nurandini, Desi. 2008. Analisis Pengaruh Lama Penyulingan Dan Komposisi Bahan Baku Terhadap Rendemen Dan Mutu Minyak Atsiri Dari Daun Dan Batang Nilam. Info – Teknik 9 (1) :21-30

Wahyudi. 2013. Buku Pegangan Hasil Hutan Bukan Kayu. Yogyakarta: Pohon Cahaya.

Wibowo, G. 2013. Analisis Kebijakan Pengelolaan Hasil Hutan Bukan Kayu di NTB dan NTT. Jurnal Hukum Dan Pembangunan 43(2): 197–224.


Komentar

  1. Sangat bermanfaat, makasih min info nya

    BalasHapus
  2. Bagus sekali, sangat membantu dan sangat bermanfaat makasih 😊

    BalasHapus
  3. Baru tau ternyata minyak masoi bisa di olah dan bisa di jadikan prospek bisnis yg menjanjikan

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. Kira" di indonesia pendapatan masoi berapaan mbak?

    BalasHapus
  6. Mengapa masoi bisa mengurangi iritasi kulit teh?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Produk Undang Undang Republik Indonesia Tentang Kehutanan